Kamis, 11 April 2019

Strategi Pembelajaran

Pendekatan Dalam Pembelajaran

Menurut Djamarah (2006:54) ada beberapa pendekatan yang diharapkan dapat membantu pendidik dalam  menyelesaikan berbagai masalah dalam  kegiatan belajar mengajar, diantaranya :
1.    Pendekatan Individual
Di kelas ada sekelompok anak didik mereka duduk dikursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Didepan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakan fasilitas belaja. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap tingkat kecerdasan, dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Maka strategi tuntas atau mastery  learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak pernah menjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal. Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajaran mengajar, dapat diatasi dengan pendekatan individual. Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka bicara. Caranya dengan memisahkan/ memindahkan salah satu anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara ditempat pada kelompok anak didik yang pendiam. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajar. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugas-tugas selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik dikelas.

2. Pendekatan Kelompok
 Dalam kegiatan balejar mengajar terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadarkan bahwa anak didik adalah sejenishomo sucius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa soaial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka membina untuk mengandalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetia kawanan sosial dikelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal baik saja. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehiduan semua makhluk hidup didunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus-menerus berdiri sendiri    tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, dan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelibihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan positif pun tejadi dikelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri. Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentanga dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan dipakai sudah dikuasi, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu, pendekatan kelompok tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal lain yang ikut mempengaruhi penggunaannya. Dalam pengelolaan kelas, terutama yang berhubungan dengan penempatan anak didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok. Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok. Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling menuyakai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamakan keakraban sebagai tarik kelompok adalah merupakan satu-satunya faktor yang menyebabkan kelompok bersatu.
Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu;
a.    perasaan diterima disukai teman-teman
b.    tarikan kelompok
c.    teknik pengelompokan oleh guru
d.   partisipasi/keterlibatan dalam kelompok
e.    penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya
f.     struktur dan sifat-sifat kelompok. Sedangkan sifat-sifat kelompok itu adalah:
·      suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu
·      suatu sistem interaksi
·      suatu organisasi atau struktur
·      merupakan suatu motif tertentu dan tujuan bersama
·      merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu
·      pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian.

  3. Pendekatan Bervariasi
ketika guru dihadapkan kepada permasalah anak didik yang bermasalah. Maka guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik yang berpariasi. Dalam belajar, anak didik mempunyai motivasi yang berbada pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah, tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai adanya tanda gangguan dalam proses belajar mengajar akibatnya, jalannya pelajaran kurang menjadi efektif. Efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuanpun menjadi terganggu, disebabkan anak didik kurang mampu berkonsentrasi. Dalam kegitan belajar mengajar, guru bisa saja membagi anak didik kedalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan pendapat dan kemaunan anak didik. Permasalah yang dihadapi oleh setiap anak didik biassanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakanpun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pedekatan bervariasi”. 

4.  Pendekatan Edukatif
Apapun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lain, seperti dendam, gengsi, ingin di takuti, dan sebagainya. Anak didik yang telah melakukan kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukuli badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak agar menghargai norma hukum, norma moral, norma sosial, dan norma agama. Cukup banyak sikap dan perbuatan yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak didik. Contohnya, menggambarkan pendekata edukatif yang telah di lakukan oleh guru dengan menyuruh anak didik berbaris di depan pintu sebelum masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak anak didik dengan pendidikan akhlak yang mulia. guru telah membina anak didik, bagaiman cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya, membina bagaimana cara menghargai orang lain dega cara mematuhi semua perintahnya yang bernilai kebaikan.

Berdasarkan kurikulum atau garis-garis besar program pengajaran (GBPP) pendidikan agama islam SLTP tahun 1994 di sebut lima macam pendekatan untuk pendidikan agama islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, dan pendekkatan fungsional.

5. pendekatan pengalaman
Experince is the best teacher,pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalam adalah guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman guru tanpa jiwa, namun selalu dicari oleh siapapun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekedar bicara, dan tidak tidak pernah berbuat sama sekali. Belajar adalah kenyaan yang ditunjukkan dengan kegiatan fisik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak kearah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya ”mendidik anak menjadi pencopet”.  Ciri-ciri pengalaman yang edukatif adalah bepusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapatwitherington.

6.    pendekatan pembiasaan
Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak dikemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok manusia yang berkpribadian yang baik pula. Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah kadang-kadang memakan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. maka adalah penting pada awal kehidupan anak menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali mendidik anak berdusta, tidak dispil, suka berkelahi, dan sebagainya.
J.Bwatson (1991:291) berpendapat, bahwa reaksi-reaksi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk karena latihan dan belajar. Jadi, dalam masakah kebiasaaan ini aliranbehaviorisme dari J.B. Watson dan aliran Empirisme dari john locke lebih dominan daripada aliran Nativisme darishcopenhour.

7.   pendekatan emosional
Emosional adalah gejala kejiwaan yang ada didalam diri seseorang emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu, perasaan jasmaniah maupun rohaniah. Perasaan rohaniah didalamnya ada perasaan intelektual, prasaan estetis, etis, sosial, dan perasaan harga diri. Menurut Chlijah Hasan (1994:39) merasa adalah aktualisasi dari hati sebagai aktivitas kejiwaan ini adalah suatu pernyataan jiwa yang bersifat subjektif. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan kesan senang atau tidak senang, dan umumnya tidak tergantung pada pengamatan yang dilakukan oleh indera. Orang yang emosional adalah orang yang cepat tergugah perasaannya.  Dalam kehidupan sosial keagamaan, perasaan seiman, seagama meningkat perasaan seseorang beragama. Karena akan menyadari suatu kewajiban yang dibebankan dipundaknya oleh hukum agama, maka dengan kesadaran dia meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agamanya itu. Emosi atau perasaan adalah suatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari diri seorang. Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi sesorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita, dialog, anjuran, perintah dan sebaginya.sedangkan rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa sikap dan perbuatan. Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran, terutama untuk pendidikan agama islam. 

8.   Pendekatan rasional
Akal atau rasio yang mempunyai potensi untuk menaklukan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu keyakinan terhadap agama yang dianut akan bertambah kokoh. Karena kempuan akal ( rasional ) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran disekolah. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.

9.    Pendekatan fungsional
Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak disekolah bukan hanya sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pendekatan fungsional yang diterapkan disekolah diharapkan dapat menjebatani harapan tersebut. Untuk memperlicin jalan kearah itu, tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya jawab, dan demonstras.

10. Pendekatan Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran disekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran.dalam prateknya tidak hanya digunakan satu, tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran.khususnya untuk mata pelajaran umum sangat penting dengan pendekatan keagamaan. Mata pelajaran umum sangat berkepentingan denganpendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi, pendidik dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Tentu saja pendidik harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari masalah agama,tetapi ada hubunganya. Pendekatan keagamaan adalah pendekatanyang memasukkan unsur-unsur agama dalam setiap mata pelajaran dan untuk menanamkan jiwa agama kepada dalam diri siswa. Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil rendahnya jiwa agama didalam diri siswa, agar nilai-nilai agamanya tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami,dihayati dan diamalkan siswa.

11. Pendekatan Kebermaknaan.
Dalam rangka penguasaan bahasa asing guru tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu sebab kegagalan penguasaan bahasa asing oleh siswa, adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, lingkungan serta kompetensi guru. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu alternatif ke arah pemecahan masalah tersebut diajukanlah pendekatan baru, yaitu pendekatan kebermaknaan.
Beberapa konsep penting yang berkaitan dengan pendekatan ini diuraikan sebagai berikut:
a.    Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
b.    Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas budaya.
c.    Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis.
d.   Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut sebagai bahasa sasaran baik secara lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsur-unsur bahasa sasaran.
e.    Motivasi belajar peserta didik merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang diikuti peserta didik. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar peserta didik.
f.     Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman peserta didik dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
g.    Dalam proses belajar-mengajar, peserta didik merupakan subjek utama, bukan sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran.
h.    Dalam proses belajar-mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. Akhimya, perlu diikhtisarkan bahwa ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu pendekatan individual, pendekatan kelompok, pendekatan bervariasi, pendekatan edukatif pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasional, pendekatan fungsional, pendekatan keagamaan, dan pendekatan kebermaknaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen aja ngga papa...😊

Jiwa dan Sikap Keagamaan Pada Remaja

Jiwa dan Sikap Keagamaan Pada Remaja Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, y...