Jiwa dan Sikap Keagamaan Pada Remaja
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang adadalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada
permulaan tidak adanya perhatian terhadap Tuhan, ini dikarenakan ia belum mempunyai
pengalaman yang akan membawanya ke sana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun
yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang di sekelilingnya yang
disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah
perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jiwa agama
adalah tingkah laku yang berhubungan dengan kehidupan beragama pada seseorang dan
seberapa besar pengaruh keyakinan beragama terhadap dirinya serta keadaan hidupnya pada
umumnya.
Sikap keagamaan adalah integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama,
perasaan agama serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Ini menujukkan bahwa sikap
keagamaan menyangkut atau berhubungan erat dengan gejala kejiwaan manusia terhadap
objek tertentu Sikap keagamaan seseorang berhubungan erat dengan kepribadian yang
dimilikinya karena dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja
untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinny
Perkembangan jiwa keagamaan di usia remaja sangat dipengaruhi oleh perkembangan
jasmani dan rohaninya, maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan
tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan
tersebut. Perkembangan agama pada remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
perkembangan rohani dan jasmani, seperti; pertumbuhan pikiran dan mental, perkembangan
perasaan, pertimbangan sosial, perkembangan moral dan sebagainya. Di samping itu juga
faktor luar dari diri mereka seperti; lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pembinaan Jiwa Keagamaan pada Remaja. Strategi Pembinaan Agama Di dalam
pelaksanaan pembinaan agama sangatlah perlu memperdengarkan nilai-nilai akhlakul
karimah sebagai perilaku qosar yang harus dimiliki seorang remaja. Hal ini tentunya
membutuhkan upaya-upaya strategis yang harus dilakukan agar pembinaan agama senantiasa
dapat selalu menjadi tongkat pecandu dalam kehidupan mereka. Adapun langkah-langkah
yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
1) pembinaan agama harus dikontraksi menuju integritas antara ilmu-ilmu aqliah dan
ilmu-ilmu naqliah sekarang tidak memisahkan jurang pemisah/gabungan antara ilmu agama
dan ilmu umum;
2) pembinaan agama dikonstruksi menuju terapainya perilaku toleransi dalam
berbagai hal tanpa melepaskan pendapat/prinsip yang diyakininya; 3) pembinaan agama perlu
dikonstruksi secara terencana, sistematis dan mendasar untuk menyiapkan generasi mudah
Islam yang berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komen aja ngga papa...😊